Refleksi dari dinamika sosial kontroversi UU MD3

Kontraversi menolak UU MD3, PMKRI dan GMNI cabang Atambua gelar Aksi Jilid II berujung anarkis, Kamis; 22/03/2018.

Dalam aksi tersebut, masa aksi mengacak ruang sidang DPRD Kabupaten Belu dan mengeluarkan kursi anggota dewan dari dalam gedung hingga diluar jalan raya.

Ketua PMKRI, Remigius Bere mengatakan, tindakan tersebut dilakukan agar memberikan efek jerah kepada anggota dewan sebagai wakil rakyat dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

"Biar mereka mata terang" paparnya melalui pesan Whatsapp.  Sabtu,24/03/2018.

Sampai berita ini diturunkan,belum ada tindak lanjut terkait aksi tersebut namun menjadi buah bibir kalangan anggota DPRD Kabupaten Belu itu sendiri.

Sebagai Senior PMKRI Cabang Atambua, Pance Manek menilai 3 poin yakni:

1. Belum ada manajemen yang lebih terorganisir dan lebih baik ketika refleksi aksi jilid 1.

2. Dinamika digenjot sedemikian rupa lepas dari ruang kontrol pengunjuk rasa itu sendiri.

3. Ruang komunikasi belum terjembatani antar OKP, sehingga masing-masing melangkahi spirit perjuangannya.

Melalui pesan Whatshapp, Pance Manek menyampaikan kesimpulan sebagai berikut:

REFLEKSI DARI DINAMIKA SOSIAL KONTRAVERSI UU MD3.

Ketika Ahok dizolimi karena kontrofersi penistaan agama, kita bakar lilin.
Ketika TKI teraniaya, kita bakar lilin.
Ketika tolak UU MD3, kita betul teriak tapi anarkis, maaf, tapi apakah kita merasa tidak digerakan oleh kekuatan terselubung dari antek politik? Presiden pejabat politik, DPR juga. Ketika mereka bersilat lidah dan pulpen, mengapa kita bersilat dengan api kesal dan kursi. Ini memang penetapan tapi nuansanya politik. Lawanlah dengan telaah hukum, telaah intelektualitas. Emosional bukan  benang merahnya. Hukum mampu mengalahkan. Unjuk rasa kita diatur undang-undang. Harafiahnya unjuk rasa artinya unjuk perasaan tak adil terjajah, unjuk aksi ke arah anarkis karena kesal bisa arahnya ke pidana, yang kita lawan dengan aksi adalah aksi oknum politik nakal, aksi menimbulkan ketidakadilan. Jika mereka pakai lidah kitapun juga, mereka pakai kertas dan bulpen kitapun juga. Dewasa dalam menentukan langkah dan posisi yang mencerminkan spirit pawai organisasi. Semoga juga bukan paralelisasi panas-panasan demo terpanas. Mungkin juga tak apa jika membantu staf cleaning service gedung DPR jemur-jemur  kursi🤣. Seriusnya kita bantu, mungkin gabus kursinya kurang, ditambal, cat kursinya pudar kita cat tambah, simbolis memang tapi bisa beri makna. Sekalian bisa kasih kain selubung warna ungu seperti kita selubungi Tuhan kita sesuai makna Prapaskah. Kursi itu, dia ada disitu dari cucuran keringat rakyat. Kursi itu juga sasaran dibanting-banting ketika katanya mereka ribut urus rakyat, padahal belum tentu juga. Kursi itu juga korban seperti kita. Keluarkan orangnya bukan kursinya, yang penting orang itu bersalah, bukan mengadili yang tidak bersalah dengan
Foto: Pance Manek
membebaskan yang bersalah (bdk. problem solving pilatus pada perkara Tuhan Yesus). Semoga ada refleksi aksi kedepannya untuk memperbaiki gerak perjuangan kita.

Pro Ecclesia et Patria!!!

#sudut_komputer
#peduli_ROSA
#save_Prapaskah
#Pance Manek.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © Amau Timor.com. Designed by OddThemes & Distributed by Blogger Templates